Kera Hitam (Tracyphitchecus auratus)

PENDAHULUAN
Taman Nasional Bali Barat yang terletak diujung barat Pulau Bali mempunyai luasan kawasan seluas 19.002,89 Ha yang terdiri dari kawasan daratan dan perairan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 493/Kpts-II/1995. Kekayaan keanekaragaman hayati yang terkandung di Taman Nasional Bali Barat baik flora maupun fauna cukup potensial sebagai aset dan sumber plasma nutfah. Selain karena burung jalak bali yang merupakan satwa utamanya, dikawasan Taman Nasional Bali Barat ini dijumpai 2 (dua) jenis primata yaitu kera abu (Macaca fascicularis) dan Kera Hitam (Tracyphitchecus auratus). Penyebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat hampir sangat mudah diketemukan di kawasan Taman Nasional Bali Barat .

Atraksi Kera Hitam merupakan satwa yang sangat disenangi para wisatawan lokal maupun luar negeri,  keindahan warna hitam dan keunikan habitatnya merupakan daya tarik sendiri bagi wisatawan yang melihatnya, bahkan tidak jarang wisatawan banyak yang berkunjung ke Taman Nasional Bali Barat hanya ingin melihat Kera Hitam, lebih jauh lagi Kera Hitam disamping dijadikan objek untuk wisatawan juga menyimpan sumber Plasma nutfah yang tidak ternilai, oleh para peneliti sering dijadikan objek penelitian dengan melihat langsung kondisi habitat Kera Hitam dilapangan sehingga jelas populasi Kera Hitam dan habitatnya perlu dijaga kelestariannya demi sumber plasma nutfah.

TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi

Nama lain dari Kera Hitam ini pada umumnya dikenal dengan nama Presbytis cristata , namun belakangan ini Weitzel dan Groves (1985) dalam Dirgayusa (1991) menyebutkan bahwa adanya kesalahan dalam nomenklatur, yaitu perbedaan ukuran lingkaran tengkorak dan lengkung dental antara Kera Hitam di jawa dengan Kera Hitam di semenanjung malaysia dan daratan asia, sehingga nama latin Kera Hitam menjadi Trachypitechus auratus kohlbruggei . Jenis kera ini di Indonesia mempunyai 3 (tiga) anak jenis yaitu : 1. T. auratus sondaicus di Jawa Barat, 2. T. auratus auratus di Jawa timur dan 3. Trachypitechus auratus kohlbruggei di Bali dan Lombok.

Adapun klasifikasi dari Kera Hitam tersebut adalah sebagai berikut :

  • Kingdom : Animalia
  • Sub Kingdom : Metazoa
  • Phyllum : Chordata
  • Sub Phyllum : Vertebrata
  • Classis : Mamalia
  • Sub Classis : Theria
  • Ordo : Primata
  • Sub Ordo : Antropidea
  • Familia : Ceroopithecidae
  • Genus : Trachypithecus
  • Spesies : Trachypitechus auratus kohlbruggei

Morfologi
Ciri-ciri Kera Hitam atau yang lebih dikenal dengan budeng di Bali, menurut Roonwal dan Manhot (1977) dalam Dirgayusa (1991) Kera Hitam dewasa memiliki warna rambut hitam sampai hitam keperakan. Perbedaan antara betina dan jantan terletak pada bagian Velvik (selangkangan), yaitu pada bagian pelvik betina berwarna putih pucat sedangkan pada jantan berwarna hitam. Anak yang baru lahir mempunyai bulu badan berwarna jingga dan pada bagian wajah tangan dan kaki berwarna putih yang secara berangsur-angsur berubah menjadi hitam. Proses perubahan ini terjadi antara 3 sampai 5 bulan.
Kera Hitam jantan dewasa memiliki ukuran panjang kepala sampai badan rata-rata 571 mm ( 467 – 650 mm )  dan panjang ekor rata-rata 742 mm ( 680 – 810 mm ). (Mapier, 1985 dalam dirgayusa 1991).

Tingkah Laku
Perilaku berkelompok

Biasanya jenis kera hidup berkelompok terdiri dari 30 sampai 60 ekor dan kelompok tersebut biasanya dipimpin oleh beberapa kera jantan besar yang dominan, kadang-kadang jika jumlah makanan mendukung kelompok kera ini bisa berkembang sampai mencapai 300-400 ekor, setelah itu kelompok  besar tersebut akan pecah untuk membentuk kelompok baru yang lebih kecil. Besarnya kelompok ditentukan oleh sumber makanan yang tersedia dan luas kawasan hutan yang ditempatinya.jika ruang gerak dan sumber makanan memungkinkan sering kali terjadi sejumlah kera memisahkan diri dari kelompok besar dan membentuk kelompok baru. Masing masing kelompok akan menjaga wilayah kekuasaan teritorialnya dari intervensi kelompok lain, bahkan sampai melakukan perkelahian antar kelompok di daerah perbatasan teritorial.

Perilaku Birahi
Pemimpin kelompok pada jenas ini biasanya berambut tebal dan mempunyai taring yang panjang dan merekalah yang mendapatkan  kesempatan pertamam mengawini kera betina yang sedang birahi, apabila kera betina berahi bertemu dengan jantan yang berkuasa mereka akan melakukan perkawinan dan dapat berlangsung beberapa jam atau beberapa hari. Pasangan ini akan makan bersama, tidur bersama, jantan mengurus betina mencari kutu nya pada waktu masa birahi. Kalau masa birahi sudah lewat maka yang betina akan mencari kutu jantannya. Selama perkawinan berlangsung maka jantan akan mengawini betian beberapa kali. Baru keempat aau kelima kalinya terjadi ejakulai selama 10-15 gerakan. Tanda-tanda betina birahi kulit kelaminnya berwarna kemerah-merahan, terjadi pembengkakan berbentuk bantalan padapulva dan pangka ekor . apabila kera jantan dan kera betina telah melakukan perkawinan dan terjadi pembuahan, kera betina akan mengandung, umur kandungan tersebut selama 165 – 180 hari. Berdasarkan perkawinan tersebut anak anak kera sepenuhnya dipelihara oleh induk betina.

Perilaku Mencari Makan
Berdasarkan atas telaah langsung dilapangan, jenis-jenis tumbuhan yang dikonsumsi Kera Hitam secara umum Kera Hitam memakan bagian pucuk daun yang masih muda, tunas bunga, dan daun muda terutama dari jenis pohon :

  • Kihujan/Trembesi (Samanea saman)
  • Tekik (Albizzia lebbeckoides)
  • Kemloko (Phylantus emblica)
  • Pilang (Acacia leocoploea)
  • Trenggulun (Protium  javanicum)
  • Kesambi (scheleicera oleosa)
  • Kepuh (Sterculia foetida)
  • Buni (Antidesma bunius)
  • Talok (Grewia koordersiana)
  • Walikukun (Schoutenia ovata)
  • Ketapang (Terminalia cattapa)
  • Juwet Manting (Crypteronia paniculata)
  • Pacar gunung (Diospyros buxipolia)
  • Bunut (Ficus indica)
  • Sawo Kecik (Manilkara kauki)
  • Klampok (Eugenia javanica)
  • Kilayu (Erioglosum rubiginosum)
  • Buta buta (Excoecaria agallocha)
  • Asam Jawa (Tamarindus indica)
  • Bekul (Zizypus mauritiana)
  • Kresek (Ficus rigida)

Berdasarkan pengamatan di lapangan, Kera Hitam biasanya lebih menyukai daun daun yang masih muda dan jarang sekali Kera Hitam memakan buah buahan artinya hanya dalam jumlah yang sedikit.

KERA HITAM DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT
Daerah Sebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dan pejabat fungsional PEH dilapangan populasi Kera Hitam (Trachypitechus auratus kohlbruggei ) di Taman Nasional Bali Barat menempati 4 (empat) daerah sebaran utama yaitu :

  1. Daerah sebaran semenanjung Prapat Agung
  2. Daerah sebaran Teluk Terima
  3. Daerah sebaran Sumber rejo
  4. Daerah sebaran Gunung Klatakan

Dari keempat daerah sebaran Kera Hitam dijumpai populasi Kera Hitam terbanyak menempati wilayah semenanjung Prapat Agung, disusul berturut- turut Gunung Klatakan, Teluk terima dan Sumber Rejo.

Jumlah Kelompok Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat
Dari 4 (empat) daerah sebaran utama penyebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat diketahui jumlah kelompok Kera Hitam terdiri dari 40 group atau kelompok besar dan dar jumlah 40 group tersebut  bisa dibagi menjadi 9 kawasan sebaran yaitu :

  • Teluk Kelor (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri dari 7 kelompok besar
  • Teluk Brumbun (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 13 kelompok populasi
  • Sawo Murni (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 1 kelompok populasi
  • Lampu erah (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 5 kelompok populasi
  • Prapat Agung (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 4 kelompok populasi
  • Tegal Bunder (Daerah sebaran Semenanjung Prapat Agung) terdiri atas 1 kelompok populasi
  • Sumber Rejo terdiri atas 2 kelompok populasi
  • Teluk Trima terdiri atas 3 kelompok populasi
  • Gunung Klatakan terdiri atas 4 kelompok populasi

Dari keempat daerah sebaran Kera Hitam dijumpai populasi Kera Hitam terbanyak menempati wilayah semenanjung Prapat Agung, disusul berturut- turut Gunung Klatakan, Teluk terima dan Sumber Rejo.

Kondisi Habitat bagi Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat
Keadaan Kondisi Fisik Habita Kera Hitam

Letak
Sebaran utama bagi Kera Hitam yaitu di kawasan semenajung prapat agung yang meliputi wilayah teluk kotal, teluk brumbun, teluk kotal, lampu merah, prapat agung , sawo murni dan tegal bunder serta tiga sebaran wilayah lainnya di sumebr rejo, teluk terima dan gunung klatakan.

Topografi
Berdasarkan peta Kelas Lereng Lapangan Pulau Bali skala 1 : 250.000 kawasan teluk kelor, teluk brumbun, lampu merah, tegal bunder, sawo murni dan klatakan bertofografilandai dengan kelas lereng 2 (8%-15%) sedangkan sumberejo dan teluk terima termasuk pada kelas lereng datar (0% – 8%)

Geologi
Berdasarkan Peta Geologi Pulau Bali skala 1 : 250.000 yang bersumber dari Direktorat Geologi Indonesia tahun 19971, formasi geologi kawasan Teluk Brumbun, Teluk Kelor Lampu merah, Prapat Agung, Sawo Murni termasuk formasi prapat agung batu gampig pasir gampingan , napal. Tegal bunder dan sumberrejo termasuk endapan aluvium sedangkan Gunung Klatakan termasuk dalam batuan gunung api Jembaran: lapak, breksi, tupa dari Gunung Klatakan dan batuan yang tergabung.

Tanah
Berdasarkan Peta Tanah Tinjau Pulau Bali Skala 1 : 250.000 Balai Planologi Kehutanan IV Nusra 1979 Kawasan Teluk Kelor, Teluk Brumbun, Lampu merah, Prapat agung, Sawo murni bertipe tanah brown mediterans soil. Teluk terima dan sumberrejo bertipe tanah hidroporfic alluvial soil, sedangkan klatakan bertipe tanah Brown Lathosol and lithosol.

Iklim
Berdasarkan peta tipe iklimPulau Bali Skla 1 : 250.000 yang bersumber dari Jawatan Meteorolgi dan Geofisika Varhanderling nomor 4/1951 kawasan prapat agung, teluk terima sumberejo dan klatakan bertipe iklim D dengan nilai Q 60 % s.d 100%

Hidrologi
Dikawasan Semenanjung Prapat Agung yang meliputi wilayah Teluk Brumbun, Teluk Kelor Lampu merah, Prapat Agung, Sawo Murni dan sumberejo sama sekali tidak diketemukan adanya aliran air sungai. Sumber iar yang ada dikawasan inipun hanya ada di lantai-lantai hutan bakau yang kondisi air genangan tersebutpun sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut.Sesangkan Kawasan Teluk terima dan Gunung Klatakan di daerah ini ditemui aliran air sungai, walaupun kondisinya hanya sebagai sungai curahan artinya sungan tersebut akan sangat tergantung pada musim, apabila musim penghujan turun maka sungai akan penuh dengan air namun apabila musim kemarau tiba aliran sungai tidak akan mengalir air hanya berupa genangan air disela sela mata iar dari pohon besar yang ada disekitar sungai.

Keadaan Biologi Habitat Kera Hitam
Vegetasi

Kawasan Semenanjung Parapat aAgung, Teluk Terima, Sumberrejo dan Klatakan secara umum disusun oleh beberapa tipe ekosistem hutan diantaranya :

  • Hutan Musim
    Komposisi yang mendominasi di tipe hutan yang menggugurkan daun ini terdiri dari jenis :

    • Talok
    • Walikukun
    • Laban
    • Kesmabi
    • Kemloko
    • Kpasan
    • Putihan
    • Kayu pahit
    • Suli
    • Tekik
    • Savana

    Tumbuhan utama yang tumbuh di disavana ini terutama didomonasi oleh jenis pohon Pilang sehingga tipe hutan ini lebih dikenal sebagai teipe hutan savana pilang, adapun jenis lain yang menyusun tipe hutan ini adalah jenis kemloko

  • Hutan Pantai
    Jenis-jenis tumbuhan yang terutama dijumpai di hutan ini anatar lainketapang, dungun, nyamplun
  • Mangrove
    Hutan bakau ini mempunyai komposisi jenis anatar lain :

    • Sentigi (Pemphis acidulata)
    • Kedukduk (Lumnitcera racemosa)
    • Tingi (Ceriops tagal)
    • Tanjang merah (Bruguiera Gymnoryza)
    • Bakau (Rhizophora apiculata)
    • Bakau Kurap (Rhizophora stylosa)
    • Nyirih (Xylocarpus granatum)
    • Api-api (Avicenia marina)
    • Buta-buta(Excoecaria aggaloca)
    • Prapat (Soneratia alba)
  • Hutan Evergreen
    Tipe Hutan ini terutama disusun oleh jenis klampok, dungun,juwet mating, corelang (homalium alba)
  • Hutan Hujan Dataran Rendah
    Komposis jenis hutan ini yaitu :

    • Lateng (Laportea stimulans)
    • Kruing bunga (Dipterocarpus Haseltii)
    • Burahol (Steleocarpus burahol)
    • Nnyatoh (Palaquiu javanensis)
    • Bayur (Pterospermum javanicum)
    • Bungur (Lagerstroemia speciosa)

Fauna

  • Aves
    Satwa endemik yang menghuni kawasan sebaran Kera Hitam adalah burung Jalak Bali, jenis burung lain yang turut memperkaya potensi kawasan ini antara lain :

    • Jalak putih
    • Srigunting
    • Punai emas
    • Bultok
    • Pelatuk besi
    • Kirik kirik
    • Cekakak
    • Cerukccuk
    • Kepodang ungu
    • Kepodang
    • Deruk
    • Ayam hutan
  • Mamalia dan Reptilia
    Potensi mamalia yang menghuni kawasan sebaran Kera Hitam adalah :

    • Rusa
    • Kijang
    • Babi hutan
    • Kera abu
    • Landak
    • Trenggiling
    • Jelarang
    • Ular sanca
    • Kura kura

    Adapun untuk ruang hunian bagi Kera Hitam relatif cukup luas tersebar hampir diseluruh kawasan Taman Nasional Bali Barat dapat dijumpai Kera Hitam dimulai dari pormasi hutan bakau samapai hutan hujan dataran rendahpun menjadi habitat bagi Kera Hitam .

Pola Penyebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat
Pola penyebaran Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat hampir tersebar diseluruh kawasan Taman Nasional Bali Barat namun ada beberapa hal yang unik dan khusus dalam pola penyebaran Kera Hitam ini yaitu :

  • Pengaruh musim hujan dan kemarau kaitannya dengan ketersedian pakan bagi Kera Hitam
    Mengingat akan banyaknya diketemukan populasi Kera Hitam yang berada di semenanjung prapat agung ini jelas sekali menunjukan bahwa semenanjung prapat agung sebagai kawasan hutan musim memberi pengaruh sekali terhadap adanya populasi Kera Hitam yang semakin meningkat.
    Apabila musim kemarau tiba makan daun daunan pada hutan musim akan menjadi rontok atau tanpa daun sehingga kelompok Kera Hitam akan mencari makanan ke daerah hutan mangrove yang selalu hijau, namun apabila musim kemarau berakhir dan musim penghujan tiba maka hutan musim akan berubah dalam seketika berwarna hijau dengan melimpahnya pucuk-pucuk daun yang mulai menguncup sehingga otomatis pergerakan Kera Hitam secara berkelompok akan menuju kawasan prapat agung yang melimpah ruah dengan makanan pucuk daun yang segar. Jadi adanya musim hujan dan kemarau akan sangat memberikan dampak terhadap pola penyebaran atau pergerakan Kera Hitam di semenanjung prapat agung.
  • Pola lingkar elips yang menjadi home range Kera Hitam dengan radius 1 Km
    Pola lingkar elips ini dimaksud yaitu bahwa pergerakan Kera Hitam selama satu tahun atau dua musim yaitu musim hujan dan kemarau bentuk pergerakannya yaitu menyerupai bentuk lingkar elips dengan home range radius 1 Km per kelompok Kera Hitam,
    Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
  • Pertahanan wilayah atau teritorial daerah jelajah Kera Hitam antara grup yang satu dengan grup yang lainnya
    Setiap grup dari Kera Hitam akan mempertahankan wilayah jelajahnya atau daerah teritorial untuk tempat mencari makan, jika ada grup lain yang mencoba merebut daerah kekuasaan maka akan terjadi suatu pertempuran yang sangat sengit antara dua kelompok Kera Hitam tersebut untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

    Keterangan  : Gambar diatas adalah dua grup kelompok Kera Hitam yang berada pada suatu daerah yang sama namun masih beda home range dan belum betemu secara langsung maka tidak akan berkontak fisik atau memperebutkan wilayah kekuasaan untuk mencari makan.
    Namun karena berbagai faktor yang mendukung seperti kekurangan pakan di kawasan, terjadinya kudeta pemimpin kelompok bukan mustahil grup satu dengan grup kedus akan saling bertemu dalam satu home range yang sama atau hampir berdekatan, maka hal ini akan menyebabkan suatu pertempuran antara dua kelompok dimana tiap tiap kelompok memperahankan daerah kekuasaannya masing-masing.
    Sehingga akan menyebabkan perekelahian yang sangat sengit, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

    Gambar diatas menunjukan bahwa ketika grup Kera Hitam I bertemu dengan grup Kera Hitam II maka akan terjadi perebutan daerah kekuasaan yang hebat antara kedua kelompok.
    Dimana setelah selesainya pertarungan biasanya dimenangkan oleh kelompok yang mempunyai jumlah grup Kera Hitam yang banyak dan grup Kera Hitam yang kalah akan dengan segera mencari daerah kekuasan baru ang belum ditempati grup lain.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

  • Populasi Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat menempati wilayah sebaran di semenanjung prapat agung dan di 3 (tiga) wilayah sebaran lainnya (Teluk Terima, Sumberejo dan Klatakan)
  • Dari 40 kelompok yang ada di Taman Nasional Bali Barat yang menempati jumnlah terebesar berada di wilayah semenanjung parapat agung, disusul berturut yaitu Teluk Terima, Sumberejo dan Klatakan
  • Habitat yang menjadi hunian Kera Hitam terutama pada hutan musim di Taman Nasional Bali Barat tepatnya dikawasan semenanjung prapat agung
  • Pola penyebaran yang berbentuk elip lingkar bagi Kera Hitam maka setiap tahunnya pasti kan menempati wilayah yang sama pada tempat yang pernah di tempati.

Saran

  • Mengingat banyaknya populasi Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat maka perlu diadakan kegiatan pembinaan habitat
  • Untuk atraksi pariwisata sangat diperlukan menara pengamat satwa Kera Hitam
  • Habitat yang begitu kering kala musim kemarau perlu dipertimbangkan untuk penyediaan bak bak minum satwa
  • Peralatan untuk pendataan dimaksud masih sangat kurang sehingga perlu diperhatikan
  • Perlunya monitoring yang berkelanjutan untuk pendataan populasi Kera Hitam di Taman Nasional Bali Barat karena adanya indikasi masyarakat memburu Kera Hitam