Membangun Kemandirian Ekonomi Masyarakat Lokal Melalui Ekowisata

Kiky Septina Kaesa, S.Hut (Calon Penyuluh Kehutanan, TN Bali Barat…

Kekayaan dan indahan alam serta potensi sumberdaya alam hayati yang dimiliki bangsa kita merupakan aset yang sangat potensial untuk bisa dikembangkan dan bermanfaat bagi masayarakat banyak khususnya dalam bidang pariwisata. Lihat saja seperti Danau Toba, Danau Kalimutu, Pegunungan Dieng, Taman Laut Bunaken, Gunung Bromo, Gunung Rinjani, Pantai Kuta, Pantai Parangtritis dan masih banyak lagi tempat-tempat wisata lainnya di negeri ini yang menjadi tujuan wisatawan. Berbagai keunikan alam yang dilengkapi dengan tumbuhan dan satwa liar yang khas, serta landscape nya mampu menarik minat wisatawan baik dari mancanegara maupun wisatawan lokal. Melihat kondisi seperti ini, banyak pihak yang ‘latah’ berbondong-bondong mulai merambah bisnis pariwisata dengan mengusung tema konservasi lingkungan atau biasa disebut ekowisata. Permasalahan yang muncul sekarang adalah sudah tepatkah tema dan misi para pelaku wisata ini dalam menerapkan konsep ekowisata? Dan siapa sajakah yang seharusnya terlibat dan diuntungkan serta apa dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan? Tidak ada salahnya kita mulai merenungkan bersama.
 Bagi negara berkembang, seperti Indonesia industri pariwisata tentu saja sangat diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tetapi pada kenyataannya secara global dampak pariwisata di negara-negara berkembang sangatlah memprihatinkan. Meskipun bisnis ini sangat menguntungkan tetapi dalam banyak kasus ekowisata telah menimbulkan beberapa permasalahan daripada mendatangkan keuntungan sesuai tujuannya. Permasalahan yang muncul diantaranya kerusakan lingkungan, kesulitan ekonomi dan masuknya pengaruh negatif terhadap budaya masyarakat lokal.
 Fenomena yang terjadi saat ini adalah bahwa ekowisata tidak hanya menjadi issue nasional tetapi juga mendunia, ekowisata dipandang sebagai suatu bentuk industri yang sangat penting baik dalam kaitannya dengan pengentasan kemiskinan maupun pelestarian alam, seperti yang dibahas dalam WES (World Ecotourism Summit) di Quebec yang menghasilkan prinsip pemikiran deklarasi Quebec antara lain bahwa ekowisata mencakup prinsip pariwisata lestari dengan adanya dampak terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan, namun juga memiliki prinsip-prinsip tertentu berupa memberi sumbangan aktif bagi pelestarian alam dan budaya, melibatkan masyarakat setempat dalam kegiatan ekowisata serta berperan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Selain hasil deklarasi Quebec, ahli pariwisata dan konservasi juga mulai merumuskan berbagai konsep ekowisata yang ideal dan bisa diterapkan dengan tepat, guna menyikapi berbagai wacana yang muncul. Menurut Chafid Fandeli, ekowisata merupakan suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan ekonomi dan sosial. Ekowisata merupakan bentuk wisata yang erat kaitannya dengan prinsip konservasi. Secara khusus di kawasan pelestarian alam seperti halnya taman nasional, bahwa untuk mengurangi tekanan terhadap hutan oleh masyarakat maka masyarakat lokal dapat diberdayakan (community empowerment) dalam kegiatan ekowisata. Pengembangan ekowisata di taman nasional dapat meningkatkan kualitas kehidupan dalam masyarakat (bidang ekonomi) dan mengkonservasi warisan alam dan budaya. Dalam Pertemuan Ekoturisme Dunia (WES) I yang berlangsung di Quebec, Kanada, 19 hingga 22 Mei 2002, ekoturisme diyakini sebagai pendekatan yang paling tepat dalam menggabungkan langkah-langkah pembangunan lingkungan berkelanjutan dengan industri wisata yang diharapkan dapat mengangkat kualitas hidup masyarakat setempat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa konsep ekowisata merupakan metode pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya pariwisata yang ramah lingkungan dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai salah satu pelaku wisata dan sudah seharusnya masyarakat lokal mendapatkan dampak positif dari kegiatan ekowisata.
 Tidak sedikit perusahaan yang mengklaim dirinya bergerak dalam bidang ekowisata tetapi pada kenyataannya hal itu hanya dijadikan ”tunggangan” dalam pemasaran biro perjalanan dan mengabaikan tujuan ekowisata yang sebenarnya. Ekowisata kurang dipandang sebagai suatu usaha bersama yang melibatkan partisipasi masyarakat lokal dengan pengunjung dalam usaha melindungi aset keanekaragaman hayati, aset budaya dan aset kawasan.
 Alur berpikir yang paling mudah mengapa dalam penerapan ekowisata perlu melibatkan masyarakat lokal adalah bahwa kecil kemungkinan berbagai kegiatan yang merusak sumberdaya alam dapat diminimalisir tanpa meningkatkan kualitas kondisi sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Oleh karena itu, agar dapat mencapai sasaran dan tujuan yang tepat yaitu terciptanya sumberdaya alam yang lestari dan meningkatnya kondisi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat maka dalam penerapan ekowisata sudah seharusnya melibatkan masyarakat lokal. Dari kegiatan ekowisata diharapkan terjadi perubahan yang signifikan dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat lokal  Pelibatan msyarakat ini tentu saja tidak bisa lepas dari pihak-pihak lain yang terkait atau stakeholder  yang menjadi satu kesatuan organisasi.
 Ketika masyarakat sudah dilibatkan secara aktif maka dengan sendirinya akan muncul rasa memiliki di dalam upaya konservasi sumberdaya alam melalui kegiatan wisata alam. Partisipasi masyarakat lokal ini bisa menjadi key point dalam pengembangan ekowisata sekaligus dapat memotivasi mereka untuk lebih bertanggungjawab terhadap pemeliharaan lingkungan dan pelestarian alam serta budaya. Tentunya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut harus menekankan pada keseimbangan penggunaan sumberdaya alam dengan usaha-usaha konservasi yang berkelanjutan (suistanable). Untuk mem-folow up hal ini tentu saja dibutuhkan suatu teknik dan upaya dalam rangka menumbuhkan semangat dan partipasi masyarakat lokal yang menjadi titik balik