| |
|
MANISAN KEMLOKO (Phyllanthus emblica L.) |
|
| |
Taman Nasional Bali Barat memiliki keanekaragaman tumbuhan berguna yang cukup tinggi, terdapat lebih dari 200 jenis tumbuhan di kawasan Taman Nasional Bali Barat dan sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal oleh pihak pengelola maupun masyarakat di sekitar kawasan, salah satunya adalah kemloko. Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan dan cara pengolahan kemloko menjadi bahan pangan serta dapat mempertahankan kelestarian sumberdaya alam hayati di kawasan TNBB.
Kawasan Taman Nasional Bali Barat memiliki akses yang sangat mudah untuk dapat masuk kedalamnya, karena kawasan ini dikelilingi oleh laut dengan garis pantai yang cukup panjang dan pada areal daratan berbatasan dengan desa penyangga yang masih menggantungkan kehidupannya pada hasil hutan.
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh Balai Taman Nasional Bali Bara saat ini adalah banayaknya pemanfaatan ilegal oleh masyarakat terhadap hasi hutan yang berada di dalam kawasanseperti pengambilan rencek untuk kayu bakar.
Untuk menanggulangi permasalahan yang terdapat di dalam kawasan yaitu dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kawasan, terutama yang masih menggantungkan kehidupannya dari hasil hutan.
Pengolahan kemloko yang dipaparkan dalam tulisan ini adalah dengan menggunakan bahan-bahan pembuat manisan dan diharapkan manisan ini dapat diterapkan pembuatannya oleh masyarakat dengan bantuan dan bimbingan pihak taman nasional untuk membantu dan memberi pelatihan untuk pembuatan manisan dan untuk membudidayakan tamanan kemloko sebagai bahan baku pembuatan manisan kemloko. Hasil kegiatan yang diperoleh adalah manisan kemloko yang dapat dijadikan bahan penganan dan dapat menjadi alternatif sumber pendapatan lain bagi masyarakat sekitar TNBB. Hal ini berimplikasi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemanfaatan hutan dalam kawasan secara ilegal dan harapan lain yaitu masyarakat dapat mengembangkan lebih jauh dari tanaman kemloko untuk meningkatkan dan menambah pendapatan mereka. |
| |
PENDAHULUAN |
Latar Belakang
Taman Nasional Bali Barat (TNBB) merupakan salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia yang menyimpan potensi keanekaragaman hayati baik flora, fauna, budaya, tipe ekosistem maupun keunikan alam. Potensi yang cukup tinggi salah satunya adalah tumbuhan berguna. Arafah (2005), mengungkapkan TNBB memiliki jumlah spesies tumbuhan obat sebanyak 66 spesies, dari jumlah tersebut 18 spesies diantaranya dimanfaatkan oleh masyarakat desa penyangga. Spesies-spesies tersebut mempunyai manfaat banyak, khususnya bagi kesehatan manusia.
Jenis tumbuhan berguna banyak terdapat di TNBB namun belum dikembangkan secara optimal salah satunya adalah Kemloko (Phyllanthus emblica L.) yang dapat dimanfaatkan sebagai produk pangan. Upaya pengembangan dan pemanfaatan potensi kemloko dapat menjadi alternatif upaya pengembangan daerah penyangga dalam guna meningkatkaan kesejahteraan. |
| |
Tinjauan Pustaka
Taksonomi |
Phyllanthus emblica L. memiliki nama lain yaitu Emblica officinalis Gaertn. Keterangan botani Kemloko adalah sebagai berikut : |
Klasifikasi: Spermatophyta
Divisi: Angiospermae
Sub divisi: Dicotyledoneae
Kelas: Euphorbiales
Bangsa: Euphorbiaceae
Marga/suku: Phyllanthus
Jenis: Phyllanthus emblica L.
Nama umum/dagang: Kemloko
Nama daerah: Sumatera : Malaka (Melayu), Balaka (Minangkabau).
Jawa: Malaka (Sunda), Malakah (Madura), Kemloko (Jawa). |
Morfologi |
Habitus Kemloko adalah pohon dengan tinggi 10-16 m. Batang Kemloko memiliki sistem percabangan monopodial, warna coklat keputihan, tegak dan bulat (Gambar 1). Komposisi daun majemuk, berbentuk lonjong, pangkal dan ujung runcing, panjang 14-22 mm, lebar 3,5 mm, pertulangan daun menyirip dan berwarna hijau.
Bunga Kemloko memiliki komposisi tunggal, berbentuk bulat, terletak di ketiak daun dengan panjang 5-6 mm. Benangsari berjumlah tiga, berwarna putih, tangkai putik berlekatan berwarna hijau pucat. Mahkota bunga berwarna merah keunguan buah kemloko berbentuk bundar, beruang tiga dan berwarna kuning pucat (Gambar 2). Rasa dari buah Kemloko adalah sepat, asam-asam pahit. Biji buah berbentuk lonjong pipih, keras dan berwarna coklat.
  
Gambar 1. Pohon, daun dan buah kemloko (Phyllanthus emblica L.)
Kemloko memiliki perakaran tunggang, berwarna putih kotor, dan memiliki waktu pertumbuhan sangat lambat. Kemloko ini hidup liar di hutan, di ladang-ladang dan tempat lainnya yang memiliki hawa panas. Buah, daun dan akar kemloko mengandung polifenol. Daun dan akar mengandung flavanoida dan khusus daun mengandung saponin. Buah kemloko mengandung vitamin C dan kulitnya mengandung zat warna yang dapat digunakan sebagai zat pewarna biru bagi kain. |
Tujuan
Menjamin terpeliharanya kelestarian dan cara-cara pemanfaatan sumberdaya alam hayati khususnya tumbuhan berguna Kemloko (Phyllanthus emblica L.) di TNBB serta mengetahui teknik pengolahan Kemloko. |
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Seluruh kegiatan dilaksanakan di dalam kawasan TNBB, yang meliputi kawasan hutan dan masyarakat desa penyangga. Waktu pelaksanaan kegiatan selama bulan Februari sampai dengan Maret.
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam rangka pembuatan tulisan ini adalah buah Kemloko dari kawasan TNBB, gula, kapur sirih, air dan pewarna makanan. Alat yang digunakan adalah alat masak, peta lokasi dan quisioner.
Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dan percobaan. Wawancara dilakukan pada tiga desa sekitar kawasan TNBB yaitu Desa Gilimanuk, Desa Penjarakan dan Desa Sumber Klampok. Hasil wawancara diolah dengan cara deskriptif. Percobaan yang dilakukan adalah pembuatan manisan. Data sekunder diperoleh melalui penelusuran pustaka, laporan perjalanan dan hasil survey.
HASIL KEGIATAN
Pengolahan Kemloko
Buah Kemloko yang dapat diolah lebih lanjut menjadi panganan (manisan), dapat memberikan nilai lebih bagi masyarakat. Pengolahan Kemloko menjadi manisan dapat dikembangkan dalam industri rumah tangga terpadu di daerah penyangga.
Mengolah Kemloko menjadi manisan, membutuhkan rangkaian teknik yang sederhana dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Pilih buah Kemloko yang tidak terlalu tua dan mengkilap.
- Tusuk-tusuk daging buah Kemloko atau digulingkan dengan parutan di atas tampah, kemudian cuci bersih.
- Rendam buah dalam air garam dan kapur sirih selama satu malam, dan air yang digunakan adalah 400 ml untuk 250 gram buah Kemloko. Bila perlu tambahkan pewarna agar warnanya tampak menarik, tiriskan.
- Simpan dalam wadah dan taburi gula pasir 150 gram (sampai tertutup). Setelah gula cair, saring air gula, didihkan dan dinginkan.
- Masukkan Kemloko ke dalam air gula dan lakukan berulang-ulang dua hari sekali sampai air gula habis atau menyerap seluruhnya.
PEMBAHASAN
Kemloko yang dipilih untuk dibuat manisan harus yang matang dan mengkilap karena buah yang terlalu tua rasanya sepat dan pahit. Pemilihan buah yang mengkilap menandakan bahwa daging buahnya masih baik. Penusukan atau penggulingan kemloko dimaksudkan untuk memudahkan menghilangkan getah yang ada dalam daging buah dan untuk melunakkan daging buahnya. Perlakuan selanjutnya adalah merendam buah dalam air garam dan kapur sirih selama satu malam yang dimaksudkan agar daging buahnya tidak hancur dan tetap dalam bentuk yang utuh. Banyaknya air yang digunakan dapat disesuaikan dengan buah kemloko yang akan dibuat manisan.
Penaburan gula pasir diatas kemloko dilakukan agar rasa manisnya meresap ke dalam daging buah. Setelah itu buah kemloko dimasukkan atau direndam kembali ke dalam air gula agar memperkuat rasa manis yang diharapkan.
Manisan kemloko dapat disajikan dalam keadaan basah maupun kering, bergantung pada selera konsumen. Manisan dapat ditambahkan sebagai campuran es buah atau minuman dingin lainnya.
Pemanfaatan buah kemloko ini dapat menjadi sumber pendapatan lain bagi masyarakat sekitar TNBB. Hal ini berimplikasi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemanfaatan hutan dalam kawasan secara ilegal. Untuk itu diperlukan adanya penyuluhan dan pembinaan lebih lanjut kepada masyarakat sekitar kawasan mengenai pemanfaatan buah kemloko.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
- Kemloko dapat diolah lebih lanjut menjadi penganan (manisan), memiliki peluang dikembangkan menjadi industri terpadu di daerah penyangga TNBB.
- Pembinaan partisipatif terhadap masyarakat daerah penyangga terkait pengembangan industri terpadu, TNBB perlu memberikan pelatihan dan penyuluhan.
Saran
- Perlu adanya kerjasama dengan unsur terkait, seperti TNBB dan Balai Perbenihan Tanaman Hutan untuk budidaya tanaman kemloko.
- Penyuluhan dalam rangka peningkatan kesadaran konservasi masyarakat yang dapat mendukung pengembangan daerah penyangga ada baiknya dilaksanakan bersama unsur terkait.
- Perlu dilakukan uji coba ulang pembuatan manisan kemloko untuk mendapatkan komposisi bahan yang tepat.
|
DAFTAR PUSTAKA
Arafah, Dian. 2005. Studi Potensi Tanaman Berguna di Kawasan Taman Nasional Bali Barat. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan IPB.
Balai Taman Nasional Bali Barat. 1995. Rancangan Pengembangan Daerah Penyangga di Taman Nasional Bali Barat. Cekik-Bali.
_______. 1997. Rencana Karya Dua Puluh Lima Tahun Taman Naional Bali Barat 1 April 1997 31 Maret 2002 Buku I (Rencana Pengelolaan). Cekik-Bali.
_______. 1998. Laporan Inventarisasi Flora Obat-obatan dan Tanaman Hias di Blok Hutan Klatakan dan Lebak Buah Balai Taman Nasional Bali Barat. Cekik-Bali.
_______. 2001. Rancangan Pembinaan Daerah Penyangga di Kelurahan Gilimanuk, Desa Ekasari, Desa Pejarakan dan Desa Melaya. Cekik-Bali.
Laine, Elisabeth. 2004. Mari Kita Mengenal Tentang Taman Nasional Bali Barat. Satelit Multi Computer, Bali.
Rukmana, Nana. 1995. Laporan Inventarisasi Flora Langka di Teluk Kelor, Ulu Sungai Teluk Terima adn Pulau Menjangan Taman Nasional Bali Barat. Balai Taman Nasional Bali Barat. Cekik-Bali.
Suryawan, Wawan. 1999. Rancangan Pengembangan Daerah Penyangga Desa Sumber Klampok Kecamatan Grokgak Propinsi Bali. Balai Taman Nasional Bali Barat. Cekik-Bali. |
| |
|
|